judulnya: ingin kamu

Kalau kubayangkan sosok perempuan shalehah
Wajah agungmu menjadi hiasan terindah yang menyejukkan hatiku

IF I . . .

kalau menjulang gunung yang tinggi, dalam hati terbersit: “aku pasti bisa melampauinya”

jika terlihat mutiara di dasar lautan, egoku berujar: “dengan tangan kosong akan aku gapai”. untung saja belum pernah lihat,he,,

jika melihat perempuan cantik, hatiku berujar: “seandainya hati dan pikiranmu secantik wajah manismu, tak ada alasan bagiku untuk tidak mendapatkanmu”

I want to sing a higher tune

Like what the singer’s do

I want to act in a big theater

Like what the actor’s do

I want to dance gracefully

And move my body free

Then fly high in the sky

Like what bird’s can do.

I want to write a piece of poem

To express my emotions

I want to draw and figure out

What I am really felt

I want to live, I want to play

Together with those little kids

And then we will laugh very loud

As if there’s no tomorrow.

I want to run under the rain

To covered my tears

I want to wash away the pain

And forget all my fears

I want to remember happiness

And not a bucks of sorrows

And believe that in reality

There is really tomorrow

I want to open her eyes

But she was blind

I want to whisper some words

But she was deaf

I want to open her mind

But she was unconscious

And when I knocked on his heart

It was frozen

I want to tell you something

But I’m loosing my breath

I want to do all of these things

But I really can’t

I want to feel my existence

But I have no chance

If she just let me see the world

Maybe, I can tell you some more…

Mata Itu

di penghujung musim sekarat nan pekat

aku memulai mencatat detik sebagai penghuni baru jagad raya

wajah binar mengelilingiku

: tak ada alang kepalang menyertaiku

tapi, itu hanya ceritera para tetangga

yang ikut menyaksikan detik-detik ibu melahirkanku

: akhir yang indah dari perjalanan penuh gundah

begitu dapat kusimpulkan

aku hanya bisa membayangkan, sekarang!

panca indera masih sebatas tanda kala itu

aku masih seperti anak-anak para tetangga

Ibu pun sumbringah

tapi, Bu

seandainya dulu dapat kusaksikan binar matamu

tentu akan menjadi cahaya cinta tulusku kepadamu

di manakah gerangan mata itu, Ibu?

ingin tatapannya menyorot jantungku

membuka mata hatiku

bening, sebening nuranimu

yang mengandungku selama sembilan bulan dilalui

Ibu, izinkan aku mencari mata itu

barangkali dapat mengabadikan keberanian dan ketulusanmu di hatiku

guluk-guluk, 31 Mei 2008

00.00 WIB

kalo gitu, KULPUS

Seusai tahlil bersama, setelah   nakes areh dihidangkan, seraya menyantap nakes areh salah seorang

nyanyi dulu ah…

di lumbung kita menabung
datang paceklik kita tak bingung
masa panen masa berpesta
itulah harapan kita semua

Saat ini sudah tidak saya temui lagi nasi bukkul, makanan khas petani Madura di musim tanam jagung. Bukkul adalah nasi yang terbuat dari singkong kering (yang disebut dengan jeringkeng).
Untuk membuat bukkul, jeringkeng tersebut ditumbuk (sekalipun tidak sampai halus) dan dituap (etoap maksudnya). Bukkul disajikan dengan parut kelapa yang dicampur sekit garam. Sehingga tidak perlu lauk untuk memakannya.
Singkong yang dikeringkan tersebut dapat jadi jeringkeng apabila sudah disimpan selama semusim.
Selama musim tanam, petani Madura menjadikan bukkul sebagai makanan selingan yang sengaja disediakan dalam dua atau tiga hari sekali. Tetapi juga tergantung keinginan masing-masing. Namun prinsipnya adalah untuk menghemat jagung (sebagai makanan pokok petani Madura) hingga masa panen mendatang.
Selama musim tanam jagung inilah petani mengisi waktu luangnya dengan menggali singkong untuk dijadikan jeringkeng. Sepulang dari sawah biasanya memanggul singkong untuk dikupas dan dikeringkan.
Singkong adalah ubi yang dapat dijadikan beragam makanan di Madura. Selain jadi bukkul, juga biasa dibuat sotel (atau populer disebut korket). Sotel biasanya dibuat kala musim hujan. Enaknya disajikan  selagi hangat plus cenge atau sambal yang pedas untuk menemani suasan dingin.
Untuk membuat sotel yang gurih, parutan singkong harus diperas diambil santannya. Santannya kita kenal dengan sakuh. Setiap sakuh yang dihasilkan dijemur dan disimpan kalau sudah kering. Karena sakuh yang kering biasa dibuat tajin atau bubur. Orang Madura menyebutnya tajina sakuh.
Tajina sakuh disajikan dengan santan kelapa dan gula merah, biasa dimakan di musim kemarau untuk melepas dahaga sepulang dari sawah.
__itulah seutas potret petani Madura.
Ketika menyimak syair Iwan Fals tersebut dari judul lagunya “Desa”, saya berangan dapat hidup se abad yang lalu. Betapa petani memiliki kekuatan yang vital untuk menunjukan kemajuan suatu bangsa. Kejayaan petani adalah cermin keberdayaan suatu bangsa. Bangsa yang tidak hanya ingin punya nama di telinga orang. Namun bangsa yang beridentitas, yang dengannya dunia memiliki kekayaan sejati.
Kejayaan petani nusantara telah membuat iri masyarakat dunia. Dari berbagai penjuru dunia berbondong -bondong ingin mendapat bagian (sebenarnya ingin memusnahkan) kekayaan petani.

Dara di Balik Jendela

Kalau kulihat kecantikan wajahmu, maka kutau itu bunga mawar yang baru saja merekah. Keindahannya membuat orang-orang merasakan sejuta ketenangan; menebar aroma wangi yang harum, sehingga semua orang tidak ingin jauh darimu. Apalagi kehilangan.

Tapi tidak selamanya kau adalah sekuntum bunga mawar. Karena segerombolan kupu-kupu tidak akan merasa kehilangan ketika sang mawar layu dan akhirnya kering. Selaksa kenangan akan lenyap bersama waktu sekalipun pancaran keindahannya mampu membuka lembaran sejarah baru yang lebih cemerlang. Tapi, kehilangan dirimu, sungguh akan membuat lelaki murka.

Sekali mawar tertunduk layu, tak satupun kumbang menghampiri. Tapi ketika wajah cantikmu kau palingkan—seperti di hari-harimu dari dulu, dimana orang-orang hanya dapat menikmati uraian rambutmu dari balik jendela kamarmu, semua lelaki akan semakin garang untuk mengendus kecantikanmu. Memang tidak semua lelaki mudah penasaran. Tapi nyaris. Lelaki adalah pengagum keindahan. Sedangkan perempuan adalah sosok yang penuh dengan estetika. Maka wajar jika lelaki durjana karena wajahmu, Aila.

***

“Mas, Pak Haji ada di dalam. Langsung masuk saja tidak apa-apa. Dimaklumi, kok. Dari pada mas kepanasan disini” kataku pada pemuda sebayaku yang menenteng 1 eksemplar majalah.

“Oh, maaf, mas. Terima kasih. Saya biasa menunggu Pak Haji Romli keluar menemui saya. Sungkan langsung mau nyelonong masuk. Lagian tidak panas-panas amat, kok, mas” timpalnya sambil mengusap cucuran keringat dari dahinya.

Sambil berjalan menuju pintu depan, kulihat Aila memang masih ada di balik jendela kamarnya. Tapi, Pak Haji benar-benar sibuk menyelesaikan tugas kantornya hari ini. Kalau terus-terusan pemuda itu mengucapkan salam, kemungkinan besar Pak Haji akan menyuruh Aila menemuinya.

“Letakkan saja di meja itu, Mas. Nanti juga Pak Haji akan tau” teriakku keras. Sungguh tak kusadari akan bertindak seperti ini. Pak Haji paling tidak suka terhadap orang yang teriak-teriak. Sejenak Aila kulihat menoleh ke luar mendengar teriakanku. Aku semakin tidak enak. Aku memilih pergi dari pada terus memperhatikan pemuda itu. Wong, dia cuma sebulan sekali mengantarkan majalah ke sini. Sedangkan aku setiap hari menginjakkan kaki di pekarangan ini. Dalih kemenanganku sembari meninggalkan rumah tua Pak Haji Romli. Lagian, kenapa sepagi ini dia mengantarkan majalah. Nanti sore, kan tidak apa-apa. Lain lagi dengan koran, lambat sedetik bisa basi.

Di setiap langkahku, berbagai pertanyaan menyerbu seputar keberadaan pemuda itu di rumah Pak Haji Romli. Jangan-jangan dia sudah tau Pak Haji punya putri cantik. Kalau memang dia sudah tau, mungkinkah dia sengaja menunggu Aila keluar menemui? Tidak. Aila tidak segampang itu kenal dengan seorang pemuda. Apalagi sembarang menemui tamu yang tak dikenal. Dikenalpun harus seizin Pak Haji Romli.

Di jalanan sudah ramai. Mobil-mobil melaju kencang. Anak-anak yang berangkat ke sekolah bersama-sama, kutemui di seluruh penjuru jalan raya seperti pagelaran konvoi bermotor. Dialah generasi yang seharusnya diselamatkan, sehingga betul-betul akan menjadi penyelamat. Kalau sekarang mereka sudah terjerat dalam tindak ketidakadilan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan sebagainya, mungkin di usia tuanya kelak akan berambisi untuk balas dendam seperti perlakuan para penjahat itu kepada mereka waktu masih kecil. Sungguh mulia semua pengorbananmu dan kedua orang tuamu. Berangkat pagi-pagi tidak peduli dengan orang-orang yang berkeliaran memenuhi sudut-sudut perkantoran hanya untuk mengerus uang negara. Ya, mungkin karena mereka belum tau koruptor itu mahluk apa. Yang penting hari ini aku mau sekolah. Nanti siang panas-panas pulang menuju rumah. Tidak peduli dengan asap-asap knalpot yang berebut terbang menyesakkan langit. Perut yang lapar harus menunda jadwal makan di tengah kemacetan jalan raya.

Suatu saat nanti, kalau Tuhan berkenan mengkaruniaiku seorang anak, sungguh tidak ada keberatan, harta yang kupunya semuanya harus kubayarkan untuk biaya sekolah anakku. Tapi, itu kapan? Masih sendiri saja kesulitan untuk sekedar mencukupi biaya makan, listrik, dan kebutuhan pokok lainnya. Orang tua yang dulu sanggup membiayaiku sampai naik bangku kuliah, dengan sendirinya aku hanya bisa mengingatnya dengan doa-doa. “semoga Tuhan berkenan memberikan rahmat-Nya”.

Akan sedikit dibanggakan, andai aku sebagai anak satu-satunya mampu mengantarkan Bapak dan Ibu sampai di pemakaman. Dan akan lebih dibanggakan lagi ketika yang menguburkan beliau adalah aku (anak gantungan hatinya). Tapi semua itu mustahil. Karena aku harus segera mengungsi jauh dari tempat semburan lumpur yang melanda desa tempat kelahiranku. Apalagi untuk mencari jasad beliau. Wong, rumah tua hasil cucuran keringat mereka tak dapat kulihat tanda-tanda masih ada. Hanya hamparan lumpur yang dapat kutatap dari kejauhan.

Setiap saat, saat kulihat di gambar-gambar luapan lumpur yang semakin menghampar di koran jualanku, seakan terlukis sejuta wajah Ibu dan Bapak sedang tersenyum melambai-lambikan tangannya. Senyumnya tetap seperti yang dulu. Saat segala upaya dan kemungkinan mustahil, akan kudapati Ibu menghapus semua keputusasaanku. Ibuuu…!!!. Kalau saja air yang ada harus menunggu turunnya hujan, niscaya cucuran air mataku akan menjadi danau yang bermuara menuju istanamu, Ibu. Tidak akan aku biarkan ada kala yang terlanda kekeringan di sana.

Anak-anak sudah pulang dari sekolahnya. Kalau tadi pagi mereka memenuhi jalanan dengan wajah yang berseri-seri, sekarang wajah mereka pucat kecoklatan. Dapat ditebak mereka sudah lapar dan betul-betul lelah setelah dari pagi mengerahkan semua tenaga dan pikirannya untuk mengenyam mata pelajaran dari gurunya. Sungguh mulia kalian. Kalian adalah putra mahkota bangsa yang damai. Tapi, dapatkah kalian betul-betul menjadi kebanggaan negeri ini? Kalau tidak, mungkin karena bangsa ini masih belum damai. Masih terlalu banyak penjahat berkeliaran. Dan sadisnya, mereka malah dipelihara dan dikasihani. Andai aku bisa berkumpul dengan kalian seperti guruku di SMP dulu. Akan terus kukatakan di hari-hari senggang mereka, saat mereka bermain dengan ria: “Negeri ini sedang diperangkap oleh penjahat. Mari dari sekarang kalian hindari penjahat-penjahat itu. Agar kalian selamat. Kalau kalian terperangkap oleh mereka, siapa lagi yang akan menyelamatkan negeri ini”. Dulu semasih aku siswa SMP, guru olahragaku menemaniku bersama teman-teman yang lain setiap hari minggu untuk sekedar jalan-jalan. Selain pantai yang paling sering dijadikan tempat sarasehan, sekali-kali masuk desa perkampungan. Tidak jarang mengajak salah seorang penduduk supaya membawa kami ke lahan pertaniannya. Dari sana aku banyak tau tentang desah nafas para petani. Oh, dulu Ibu juga begitu. Tapi, Ibu tidak pernah mengizinkanku ikut membantu mereka di sawah. Lebih baik kamu belajar saja dan menjaga rumah, katanya.

***

Pagi masih buta. Tapi, siapa yang sudah mendahuluiku berdiri di depan teras Pak Haji Romli? Tepat di samping jendela kamar Aila. Jam segini biasanya Aila akan menemuiku mengambil koran langganan ayahnya. Tapi, saat pandanganku menyisir sudut-sudut pekarangan tak tampak sesosok peri jelmaan malaikat itu menenteng seceret air.

Sekalipun sudah setiap hari aku memasuki pekarangan ini, masih saja hati kecilku merasa enggan untuk bertingkah bak tetangga dekat yang datang untuk sekedar meminjam perabotan dapur. Tapi itu yang biasa kutau cuma di kampungku dulu. Kalau disini belum betul-betul tahu. Memang untuk menjadi kota metropolitan, lingkungan disini masih jauh. Tapi kalau melihat suasana rumah Pak Haji Romli, dari dulu terlihat tertutup. Itupun kalau hanya dilihat dari kejauhan. Kenyataannya, Pak Haji selalu tersenyum setiap kali kutatap wajah senjanya. Setiap kali dia yang menerima koran yang kuantar, seingatku tidak pernah absen mempersilahkanku duduk. Sampai saat ini, masih hanya sekali pernah kucicipi kopi buatan Aila, kebetulan waktu itu koran Pak Haji kuantarkan paling akhir. Seakrab apapun sapaan Pak Haji, belum mampu menghilangkan rasa sungkanku.

“Lagi ngapain, Mas?” tanyaku pada pemuda yang tak kukenal itu. Entah sebagai agen majalah apa pemuda itu. Dari dulu sudah banyak sekali orang yang kutemui sama-sama menjadi agen langganan Pak Haji Romli.

“Masih nungguin uang, Mas” jawabnya singkat.

“Nungguin uang?” jadi, barang langganannya sudah diambil? Siapa yang mengambilnya? Sepagi ini belum pernah Pak Haji Romli yang menerima koran antaranku. Aila? Ahh… Tidak. Tidak. Mungkin Aila masih melanjutkan tidurnya.

“Kenapa, Mas?” tanyanya sambil tersenyum tipis.

“Nggak. Nggak. Nggak ada apa-apa” kilahku mantap.

“Mas, ini uangnya”

Aila? Jadi…

“Emm.. Aila., Ini korannya” sapaku seraya mendekat tepat di depan Aila. Aku harus lebih akrab, karena setiap hari kesini. Lagian, Pak Haji, kan baru-baru ini langganan majalah. Belum sesering aku menatap wajah Aila. Benakku menang. Agen majalah itu masih berdiri memperhatikanku, menunggu uangnya. Karena langkah Aila terhenti untuk mengambil korannya yang kusodorkan ke dekatnya.

“Oya, ini uangnya” Aila langsung berpaling setelah mengambil koran dari tanganku mendekati si agen majalah itu untuk memberikan uangnya. Terlihat ada perbincangan disamping memberikan uang. Entah apa yang dibicarakan. Sedikit demi sedikit kaki kuayunkan melangkah. Dan aku pamit seperti biasa. “Aila, pergi dulu”. Dia mengangguk (cuma mengangguk) tidak lepas dari senyumnya yang khas.

Memangnya apa yang mereka bicarakan? Sudah seberapa lama, sih, dia jadi langganan Pak Haji Romli?

***

“Bapak harus istirahat selama beberapa hari ini, sampai stamina Bapak betul-betul pulih” kata seorang perawat di puskesmas. Tak punya alasan untuk kukilahkan. Aku harus betul-betul istirahat. Sakitku memang tidak parah. Seingatku, dari kecil belum pernah sakit yang mengharuskan berinfus. Untuk hal ini mungkin sangat tidak menarik untuk juga ikut-ikutan seperti aku masih kecil dulu, kalau melihat ada anak tetangga yang mempunyai mainan baru, tidak boleh tidak aku juga harus dibelikan. Kalau tidak bakalan nangis sehari semalam.

Sekedar bisa berjalan yang tidak terlalu lama dan tidak terlalu siang di bawah terik panas matahari, aku putuskan untuk kembali beraktifitas. Ingin sekali melihat sejuknya pekarangan rumah Pak Haji Romli yang tak pernah membosankan. Mungkin memang tidak pernah akan membosankan. Selama tiga hari, aku minta tolong kepada teman sesama lopernya untuk mengantarkan koranku.

Sesampainya di rumah Pak Ahmad, agen langgananku, koran masih belum datang. Terlalu pagi aku berangkat. Tapi aku memutuskan untuk menunggu disana sambil berbincang-bincang dengan Pak Ahmad. Tumben sepagi ini sudah sampai kesini. Mimpi apa semalam? Guyonnya, renyah.

Koran sudah kukemas dan siap diantarkan dan dijajakan. Sebelum berangkat, sekedar menghabiskan secangkir kopi buatan istri Pak Ahmad, sudah menjadi kepastian kubaca dulu berita utama koran pagi ini. Siapa tau ada konsumen yang menanyakan berita paling aktual dulu sebelum membelinya. Begitu prinsipku sejak awal menjalani pekerjaan ini. Betul, tidak sedikit mereka yang bertanya. Sekalipun hanya sekedar basa basi. Ya, paling tidak sedikit akrablah dengan konsumen.

Di kediamannya inilah insiden pemerkosaan massal sebanyak sepuluh orang terhadap Bulan (nama samaran) kemarin malam terjadi. Sekilas tulisan ini kubaca di bawah gambar itu. Mengagetkan. Karena rumah di gambar itu adalah kediaman Pak Haji Romli. Terlihat bunga-bunga yang biasa Aila siram setiap pagi, merekah indah. Tapi kuperhatikan jendelanya, satu-satunya terobosan untu sekedar melihat Aila dari kejauhan, rusak parah dan kaca-kacanya hancur. Tak kulanjutkan membaca beritanya, sangat yakin itu rumah Pah Haji Romli.

Secepat kilat kutinggalkan rumah Pak Ahmad. Mungkin dia bertanya-tanya melihat aku pergi melesat begitu saja. Tanpa pamit. Bahkan kopiku masih habis sekali cicipan. Berjalan setengah berlari. Semua orang yang ada di jalanan melihatku. Entah apa yang mampu menyeret pandangan mereka melototiku. Tidak peduli ada yang kenal. Memanggilpun tak akan kugubris. Tapi ternyata tidak ada. Syukurlah.

Sesampainya di rumah Pak Haji Romli, nafas yang tersengal-sengal tak kuhiraukan. Dibagaimanapun akan tetap keluar masuk. Dengan langkah kaki yang tiba-tiba terasa berat kuseret, kubandingkan pemandangan rumah Pak Haji Romli pagi ini dengan gambar halaman depan koran. Tidak sama. Padahal kulihat pintu depan masih tegar. Setegar badanku yang berdiri di atas nurani yang tulus untuk sekedar bisa menikmati kembali wajah Aila yang berselang hanya tiga hari dari kesempatan yang terlalui. Entah, mungkin karena aku tidak percaya. Bahkan tugu kecil yang kujadikan tempat untuk menyembunyikanku ketika kuingin lebih lama melihat Aila duduk di balik jendela kamarnya masih berdiri di samping pintu masuk. Masih tetap dengan warna keemasannya yang dililiti ukiran bunga anggrek.

Sungguh jauh dari hari-hari kemarin. Ini mustahil kurasa. Tapi kenyataan. Kugigit jemariku. Sakit. Benar, aku tidak bermimpi. Kenapa semua ini terjadi? Kenapa? Rumah Pak Haji Romli tak pernah terbayang akan bersuasana seperti ini. Yang kutau kecantikan Aila menjadi bagian dari keindahan suasana pekarangan ini. Sekarang? malah gelap. Penuh dengan warna gelap legam. Pekat dan mencekik.

Tidak. Tidak. Aila tidak akan mati sebelum aku yang akan menggali liang kuburnya. Sebelum anak-anakku yang akan mengkafaninya. Tapi kenapa harus sekarang rumah ini akan kedatangan banyak orang untuk melayat?

Perempuan Bermata Emas

Langakah gontainya membelah keributan para tukang angkot yang sibuk mencari penumpang. Berpasang-pasang mata memelototinya. Keributan berubah keheningan. Sorot matanya yang tajam menundukkan tatapan para lelaki di sekitarnya.

“Neng, mau kemana? Mari naik, sudah penuh, langsung berangkat”. Cegat seorang sopir angkot yang sedang berdiri di samping mobilnya.

Tak bergeming. Tatapannya tetap lurus seakan menggaris arah langahnya. Tak ada lagi orang yang menyapanya. Hanya memelototinya yang semakin mendekat. Sopir tadi pun tidak memaksa.

Hampir sampai di ujung antrean angkot yang memanjang, langkahnya berhenti tepat di samping pintu mobil angkot berwarna hitam. Lalu naik ke dalam mobil yang masih kosong itu. Jelas masih lama mobil itu akan berangkat. Karena harus menunggu sekitar empat mobil untuk bisa mengisi penumpang. Sopir mobil itupun masih berada di sekumpulan para sopir yang ngobrol di atas trotoar untuk sekedar menepis kebosanan menunggu giliran. Terlihat gelak tawanya lepas. Segelas kopi sudah tinggal separuh. Mereka bergantian meminumnya.

Lenyapnya dari hadapan halayak, lenyap pula keheningan yang menghinggapi tukang angkot dan kebanyakan lelaki lainnya. Suasana kembali ramai oleh keributan dan kesibukan orang-orang. Berlalunya perempuan itu sama sekali tidak berdampak apa-apa bagi para tukang angkot yang sempat memerhatikannya.

Matanya teduh. Rambutnya lebat bergelombang. Sesekali tersenyum tipis. Lesung pipitnya tajam, menusuk mataku yang terus membuahkan imjinasi. Sudah tidak kerasan duduk, hanya saling menyimpul senyum. Iseng. Kuhampiri kesendiriannya.

“Sedang apa tadi disana?” Begitu dia menyapaku dari balik jendela. Kuperlebar kaca mobil itu terbuka. Semakin jelas lesung pipitnya menusuk-nusuk pipinya.

“Menunggu vulkanisir ban motor” jawabku. Matanya betul-betul indah dan teduh. Berapa lama pun, pasti kerasan menatapnya lekat.

“Boleh saya masuk?”

“Dengan senang hati” jawabnya ramah.

Kulitnya putih terbungkus baju berlengan panjang bermotif batik tradisional dengan samper yang membalut sampai di mata kakinya. Pakaiannya tidak ketat, hanya seukuran lekuk tubuhnya; lembut dan mempesona. Sepintas pikiranku melayang.

Penampilannya cukup sederhana. Tidak ada hiasan emas atau perak yang dia pakai. Hanya dua butir mutiara manikan menempel lengket di telinganya.

Lentik jemarinya akan terlihat lebih indah seandainya dia memakai cincin. Sekalipun hanya di jari manisnya. Dada kencanngya akan kelihatan lebih menarik andai terdapat zamrud bertahta di dadanya sebagai gantungan kalung yang menghiasi leher jenjangnya.

Setibanya aku masuk, “Zeina”. Katanya sambil menjulurkan tangannya.

“Zeino”. Balasku sambil meraih tangannya erat.

Tangan masih erat. Senyumnya terus mengembang. Mata indahnya semakin teduh. Mataku tak berkedip.

“Zeino?” perlahan dia menarik tangannya dan memperbaiki duduknya. “Sepertinya nama kita ada kesamaan. Lengkapnya?”

“Zeino Aji. Nama lengkap kamu?”

“Alfu Zeina” jawabnya. Nadanya rendah. Iramanya lembut. Suara itu menyusup menyusuri aliran darah. Membuat hatiku kaku beku. Seperti tenggelam di cairan gunung es.

“Wah, nama yang bagus dan indah. Seindah oranngya. Alamatnya dimana?” senyumnya tersipu rasa malunya. Tapi, sepertinya sedikit bangga. Pipinya terlihat memerah.

“Rumahku dekat-dekat sini. Paling enggak 25 menit kalau jalan kaki. Kalau rumah Mas?” senyumnya menyungging tak mampu menahannya.

“Rumah saya di Surabaya. Sekarang mau kemana?”

“Maunya main ke rumah teman. Tapi, sepertinya sudah siang. Sebentar lagi pulang.”

“Mau saya antar? Sebentar lagi motorku sudah selesai.”

“Terima kasih. Merepotkan. Bisa jalan sendiri, kok. “

Sebuah apologi seorang perempuan untuk menutupi rasa malunya. Nalurinya justru sebaliknya. Tanpa harus memaksa lama sekali. Cukup mengulangi sekali lagi.

Memang rumahnya tidak jauh. Tapi jalannya yang berliku-liku membuatku mampu mengungkap rahasia-rahasia kecilnya. Hobinya, makanan favoritnya, binatang kesayangannya, de el el.

“Kamu disin sendirian?”

“Iya. Ibuku meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu, waktu saya masih SMP, setelah dua tahun sebelumnya, Bapak meniggal dunia karena tumor ganas di perutnya”

Wajahnya miris. Sedih. Tatapannya kosong menerawang teringat pada seutas sejarah. Kemudian menunduk lesu dengan kedua telapak tangan menutupi mukanya. Isak tangis tersedu pelan. Lalu air matanya menetes perlahan.

Tentu tidak dapat kubayangkan seberapa dahsyat. Karena saya laki-laki. Berbeda. Perempuan itu sensitif. Akan tetapi, aku yakin isak dan air matanya tulus karena kehilangan. Atau menyesali sesuatu yang tak pernah tertebus.

Tak ada bahasa untuk sekedar kuberucap. Keberadaanku di rumah ini adalah seorang tamu asing. Hanya bisa mendengar, melihat, dan menikmati apa adanya. Tidak mampu berbuat lebih. Hening. Lama sekali. Aku hanya bisa menunggu sampai Zeina angkat bicara lalu kembali bisa tersenyum dengan sisa-sisa isak tangisnya.

Tembok-temboknya putih kelabu. Tentu sudah tua. Selain kursi rotan yang sekarang menjadi tempat dudukku, ada lemari disana. Masih dengan warna alami jati emas. Tak ada cat atau pelitur. Lemari itu kosong.

Perempuan ini masih gadis. Tak kutemui foto-foto pengantin terpampang. Hanya foto mungilnya yang masih bangga dengan seragam SMA-nya menggantung di atas sebuah pintu kamar di depanku. Mungkin di situ kamarnya Zeina dari tiga kamar yang ada di rumah ini.

“Zein, kalau boleh, bisa tidak aku tau, kenapa sampai bisa menangis seperti itu?”

“Tidak apa-apa, Mas” jawabnya dalam isak yang mulai reda.

Jawaban yang mematikan. Sepertinya sulit untuk mengetahui yang sebenarnya. Selain menyandar kembali dalam dudukku, hanya memperhatikan Zeina yang sibuk menyeka air matanya dengan sepucuk sapu tangan yang diambil dari ranselnya. Lalu bergegas keluar menuju halaman rumahnya. Sejanak menoleh kanan kiri, kemudian kembali lagi sambil menutup pintu.

“Kok, ditutup?”

“Biar ketahuan kalau sedang ada tamu” jawabnya datar.

Justru aku semakin penasaran. Bukankah justru sebaliknya?

Tak perlu berlarut-larut untuk banyak tau tentang itu. Mungkin memang berbeda. Begitu, bijak hatiku. Rasa penasaran itu pun hilang tak berbekas. Kubuang jauh-jauh semua keingintahuan akan perbedaan yang kutemui. Yang terutama, aku harus bisa memikatnya. Harus meyakinkannya, kalau aku betul-betul sedang sendiri. Sepertinya tidak butuh banyak apologi untuk menunjukkan citra yang baik.

Tapi, sepertinya tidak surprise. Tiba-tiba mintalku kaku. Biasa, untuk naik ke fase selanjutnya. Tidak boleh gagal. Tekadku bulat.

“Sesuka Mas. Akan sangat berterima kasih, kalau Mas bersedia menikahi saya” begitu akhirnya. Sedikit timbul pertanyaan. Alah, masa bodoh harus berpikir yang tidak-tidak. Kesempatan tidak datang dua kali.

Berlarut-berlarut, ketidakmengertian pada bahasa Zeina sering kali terngiang. Ada banyak perbedaan. Entah, apakah orang lain juga akan memahami seperti itu. Tentu hanya soal bahasa dan tindakan saja. Tapi, tidak mustahil itu adalah sebuah indikasi tentang identitas seseorang.

***

Sampai sekarang isak tangisnya tak dapat kulupakan. Hal yang berlebihan diperlakukan padaku waktu itu: seperti teman curhat. Padahal masih sekedar nama dan rumahnya yang kutau.

Itu lembaran yang tak mungkin hilang percuma pada saat akhir-akhir ini sering kali bertengkar karena uang belanja tidak cukup. Kadang harus pisah ranjang. Tak jarang minggat. Tapi selalu kembali dengan senyumnya yang tak mungkin kulupakan, senyum dengan sisa-sisa isak tangis di sampingku, dulu. Kedatangannya langsung nyenyak di pangkuanku.

“Zeina. Mas, kan sudah bilang. Kita hidup pas-pasan, harus berusaha dan tabah. Untuk membeli emas, harus nabung dulu”

Tak ada jawab. Semakin erat dia merangkul lenganku. Kudekap erat.

Setiap hari aku kecup keningnya, kubelai rambutnya. Berharap kehangatan menusuk ubun-ubunnya. Tentu agar harinya tenteram dan damai. Matahari tetap terbit dari timur dan terbenam di ufuk barat. Rangkaian hari belum ada perubahan. Kalau tidak lapar, maka jelas sedang kenyang. Malampun seperti itu. Gelap. Sunyi. Ngeri.

Ketika siang hari lapar, makan bukan hal yang berharga di malam hari. Pisah ranjang adalah penyelesaian yang tak banyak memakan tenaga. Ketika di malam hari aku nyenyak di lantai, akan bangun kesiangan, setelah semalaman tidak bisa tidur karena kedinginan dan usaha menghindar dari gigitan nyamuk. Hanya akan kutemui baju tidurnya berserakan dengan pintu dibiarkan terbuka. Tidak kaget. Sudah biasa. Kuanggap inovasi hidup. Hanya bagian kecil, kok, dari tak terhitung kebahagiaan yang telah kujalani. Tentu keadilan Tuhan.

Bagi seorang lelaki, melupakan seorang perempuan itu hal yang mudah. Akan tetapi juga perempuan akan dengan sangat mudah akan memperangkap seorang lelaki; membuatnya betah untuk bersama selamanya.

Ada pepatah: ketika seorang ayah melihat anak orang lain, otomatis akan ingat pada anaknya sembari mengatakan “dia seperti anakku”. Akan tetapi, ketika melihat istri orang lain, maka akan lupa pada istrinya sendiri. Tapi, selama aku masih bisa, akan tetap kuusahan untuk bersabar.

Hari berganti semakin tak terhitung. Tak menarik pula untuk menghitung berapa kali tidur di lantai, melihat bantal-bantal beserakan di ranjang pada pagi hari, ditinggal minggat dengan pintu terbuka lebar-lebar. Namun yang aneh, senyumnya semakin mahal dan tanpa harus menghitungnya, hanya berapa kali dalam sehari. Kadang tidak sama sekali. Ngobrolnya pun sukar. Sebenarnya aku sangat ingin untuk memulai. Tapi kelihatannya sulit. Apatismenya tinggi. Dari dulu aku tidak pernah jadi pembuka. Dia selalu punya inovasi baru untuk memulai.

“Yang kuminta tidak banyak. Tapi sampai sekarang, mana hasil tabungannya? Biar saya yang akan membelinya sendiri. Kalau sekarang tidak juga bisa beli, jangan harap saya akan kembali” benar-benar marah. “Ayo jawab” tentu bentangan bukan hal yang mengejutkan. Sudah terlalu sering. “Tenang, Zein. Sabar. Tinggal sedikit lagi” aku memelas memohon kesabarannya.

“Sudah tidak ada waktu lagi. Tanpa Mas, sebenarnya saya bisa mendapatkan emas yang banyak”. Lalu membalikkan tubuhnya cepat dari hadapanku yang masih belum betul-betul sadar, tadi Zeina dengan keras berteriak agar aku terbangun. Pelan-pelan kuikuti dia masuk ke kamar. Tapi, jauh sebelum aku menyentuh daun pintu saja, dia sudah keluar, melesat pergi dengan tas besar yang digendongnya.

Catatan:

Samper: Kain panjang yang dipakai orang perempuan dengan dibalutkan pada tubuhnya sebagai rok.

the power of prayer

Semalam tidur begitu panjang. Sejak jam 21.40 WIB. Saat saya tidur, saya kehilangan separuh kemanusiaanku sebagai mahluk sosial. Karena tidak mungkin saat dalam tidur akan mengabdikan daya agar anfa’ linnas.
Orang yang tidur sebenarnya berada dalam kerugian. Kecuali yang meniatkan tidur untuk menyambung daya juang esok. Karena hanya sedikit saja kelebihan manusia selain kekurangan dan keterbatasannya. Sudah barang tentu seorang manusia tidak mampu mendayakan upaya tanpa henti.
Beruntunglah orang-orang yang dapat meniatkan tidurnya untuk esok yang lebih baik. Karena yang demikian itu menunjukkan bahwa ia tidak ingin sedetik pun sia-sia dari usianya. Semoga abadi manusia itu.
Ya Allah..
semoga Engkau memulyakan istirahatku semalam suntuk
walaupun sering kali aku lupa untuk mendoakan tidurku
walaupun begitu, Engkau membangunkanku saat nafilah-Mu tiba untuk tahajjud
namun Engkau pastilah tahu, seberapa banyak aku mendayakan diri pada nafilah-Mu
hitungan sujud dan ruku’ itu jaaaaaaaaaauh amat kecil dibandingkan rahmat dan cinta kasih-Mu, ya Allah…
ampunilah aku, ya Allah
semoga dalam keterpurukanku, Engkau tetap mengasihiku…
sehingga aku dapat memulai hari dengan lebih baik

bak shubuh yang Engkau turunkan…