Perempuan Bermata Emas
Posted by zie | Filed under Uncategorized
Langakah gontainya membelah keributan para tukang angkot yang sibuk mencari penumpang. Berpasang-pasang mata memelototinya. Keributan berubah keheningan. Sorot matanya yang tajam menundukkan tatapan para lelaki di sekitarnya.
“Neng, mau kemana? Mari naik, sudah penuh, langsung berangkat”. Cegat seorang sopir angkot yang sedang berdiri di samping mobilnya.
Tak bergeming. Tatapannya tetap lurus seakan menggaris arah langahnya. Tak ada lagi orang yang menyapanya. Hanya memelototinya yang semakin mendekat. Sopir tadi pun tidak memaksa.
Hampir sampai di ujung antrean angkot yang memanjang, langkahnya berhenti tepat di samping pintu mobil angkot berwarna hitam. Lalu naik ke dalam mobil yang masih kosong itu. Jelas masih lama mobil itu akan berangkat. Karena harus menunggu sekitar empat mobil untuk bisa mengisi penumpang. Sopir mobil itupun masih berada di sekumpulan para sopir yang ngobrol di atas trotoar untuk sekedar menepis kebosanan menunggu giliran. Terlihat gelak tawanya lepas. Segelas kopi sudah tinggal separuh. Mereka bergantian meminumnya.
Lenyapnya dari hadapan halayak, lenyap pula keheningan yang menghinggapi tukang angkot dan kebanyakan lelaki lainnya. Suasana kembali ramai oleh keributan dan kesibukan orang-orang. Berlalunya perempuan itu sama sekali tidak berdampak apa-apa bagi para tukang angkot yang sempat memerhatikannya.
Matanya teduh. Rambutnya lebat bergelombang. Sesekali tersenyum tipis. Lesung pipitnya tajam, menusuk mataku yang terus membuahkan imjinasi. Sudah tidak kerasan duduk, hanya saling menyimpul senyum. Iseng. Kuhampiri kesendiriannya.
“Sedang apa tadi disana?” Begitu dia menyapaku dari balik jendela. Kuperlebar kaca mobil itu terbuka. Semakin jelas lesung pipitnya menusuk-nusuk pipinya.
“Menunggu vulkanisir ban motor” jawabku. Matanya betul-betul indah dan teduh. Berapa lama pun, pasti kerasan menatapnya lekat.
“Boleh saya masuk?”
“Dengan senang hati” jawabnya ramah.
Kulitnya putih terbungkus baju berlengan panjang bermotif batik tradisional dengan samper yang membalut sampai di mata kakinya. Pakaiannya tidak ketat, hanya seukuran lekuk tubuhnya; lembut dan mempesona. Sepintas pikiranku melayang.
Penampilannya cukup sederhana. Tidak ada hiasan emas atau perak yang dia pakai. Hanya dua butir mutiara manikan menempel lengket di telinganya.
Lentik jemarinya akan terlihat lebih indah seandainya dia memakai cincin. Sekalipun hanya di jari manisnya. Dada kencanngya akan kelihatan lebih menarik andai terdapat zamrud bertahta di dadanya sebagai gantungan kalung yang menghiasi leher jenjangnya.
Setibanya aku masuk, “Zeina”. Katanya sambil menjulurkan tangannya.
“Zeino”. Balasku sambil meraih tangannya erat.
Tangan masih erat. Senyumnya terus mengembang. Mata indahnya semakin teduh. Mataku tak berkedip.
“Zeino?” perlahan dia menarik tangannya dan memperbaiki duduknya. “Sepertinya nama kita ada kesamaan. Lengkapnya?”
“Zeino Aji. Nama lengkap kamu?”
“Alfu Zeina” jawabnya. Nadanya rendah. Iramanya lembut. Suara itu menyusup menyusuri aliran darah. Membuat hatiku kaku beku. Seperti tenggelam di cairan gunung es.
“Wah, nama yang bagus dan indah. Seindah oranngya. Alamatnya dimana?” senyumnya tersipu rasa malunya. Tapi, sepertinya sedikit bangga. Pipinya terlihat memerah.
“Rumahku dekat-dekat sini. Paling enggak 25 menit kalau jalan kaki. Kalau rumah Mas?” senyumnya menyungging tak mampu menahannya.
“Rumah saya di Surabaya. Sekarang mau kemana?”
“Maunya main ke rumah teman. Tapi, sepertinya sudah siang. Sebentar lagi pulang.”
“Mau saya antar? Sebentar lagi motorku sudah selesai.”
“Terima kasih. Merepotkan. Bisa jalan sendiri, kok. “
Sebuah apologi seorang perempuan untuk menutupi rasa malunya. Nalurinya justru sebaliknya. Tanpa harus memaksa lama sekali. Cukup mengulangi sekali lagi.
Memang rumahnya tidak jauh. Tapi jalannya yang berliku-liku membuatku mampu mengungkap rahasia-rahasia kecilnya. Hobinya, makanan favoritnya, binatang kesayangannya, de el el.
“Kamu disin sendirian?”
“Iya. Ibuku meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu, waktu saya masih SMP, setelah dua tahun sebelumnya, Bapak meniggal dunia karena tumor ganas di perutnya”
Wajahnya miris. Sedih. Tatapannya kosong menerawang teringat pada seutas sejarah. Kemudian menunduk lesu dengan kedua telapak tangan menutupi mukanya. Isak tangis tersedu pelan. Lalu air matanya menetes perlahan.
Tentu tidak dapat kubayangkan seberapa dahsyat. Karena saya laki-laki. Berbeda. Perempuan itu sensitif. Akan tetapi, aku yakin isak dan air matanya tulus karena kehilangan. Atau menyesali sesuatu yang tak pernah tertebus.
Tak ada bahasa untuk sekedar kuberucap. Keberadaanku di rumah ini adalah seorang tamu asing. Hanya bisa mendengar, melihat, dan menikmati apa adanya. Tidak mampu berbuat lebih. Hening. Lama sekali. Aku hanya bisa menunggu sampai Zeina angkat bicara lalu kembali bisa tersenyum dengan sisa-sisa isak tangisnya.
Tembok-temboknya putih kelabu. Tentu sudah tua. Selain kursi rotan yang sekarang menjadi tempat dudukku, ada lemari disana. Masih dengan warna alami jati emas. Tak ada cat atau pelitur. Lemari itu kosong.
Perempuan ini masih gadis. Tak kutemui foto-foto pengantin terpampang. Hanya foto mungilnya yang masih bangga dengan seragam SMA-nya menggantung di atas sebuah pintu kamar di depanku. Mungkin di situ kamarnya Zeina dari tiga kamar yang ada di rumah ini.
“Zein, kalau boleh, bisa tidak aku tau, kenapa sampai bisa menangis seperti itu?”
“Tidak apa-apa, Mas” jawabnya dalam isak yang mulai reda.
Jawaban yang mematikan. Sepertinya sulit untuk mengetahui yang sebenarnya. Selain menyandar kembali dalam dudukku, hanya memperhatikan Zeina yang sibuk menyeka air matanya dengan sepucuk sapu tangan yang diambil dari ranselnya. Lalu bergegas keluar menuju halaman rumahnya. Sejanak menoleh kanan kiri, kemudian kembali lagi sambil menutup pintu.
“Kok, ditutup?”
“Biar ketahuan kalau sedang ada tamu” jawabnya datar.
Justru aku semakin penasaran. Bukankah justru sebaliknya?
Tak perlu berlarut-larut untuk banyak tau tentang itu. Mungkin memang berbeda. Begitu, bijak hatiku. Rasa penasaran itu pun hilang tak berbekas. Kubuang jauh-jauh semua keingintahuan akan perbedaan yang kutemui. Yang terutama, aku harus bisa memikatnya. Harus meyakinkannya, kalau aku betul-betul sedang sendiri. Sepertinya tidak butuh banyak apologi untuk menunjukkan citra yang baik.
Tapi, sepertinya tidak surprise. Tiba-tiba mintalku kaku. Biasa, untuk naik ke fase selanjutnya. Tidak boleh gagal. Tekadku bulat.
“Sesuka Mas. Akan sangat berterima kasih, kalau Mas bersedia menikahi saya” begitu akhirnya. Sedikit timbul pertanyaan. Alah, masa bodoh harus berpikir yang tidak-tidak. Kesempatan tidak datang dua kali.
Berlarut-berlarut, ketidakmengertian pada bahasa Zeina sering kali terngiang. Ada banyak perbedaan. Entah, apakah orang lain juga akan memahami seperti itu. Tentu hanya soal bahasa dan tindakan saja. Tapi, tidak mustahil itu adalah sebuah indikasi tentang identitas seseorang.
***
Sampai sekarang isak tangisnya tak dapat kulupakan. Hal yang berlebihan diperlakukan padaku waktu itu: seperti teman curhat. Padahal masih sekedar nama dan rumahnya yang kutau.
Itu lembaran yang tak mungkin hilang percuma pada saat akhir-akhir ini sering kali bertengkar karena uang belanja tidak cukup. Kadang harus pisah ranjang. Tak jarang minggat. Tapi selalu kembali dengan senyumnya yang tak mungkin kulupakan, senyum dengan sisa-sisa isak tangis di sampingku, dulu. Kedatangannya langsung nyenyak di pangkuanku.
“Zeina. Mas, kan sudah bilang. Kita hidup pas-pasan, harus berusaha dan tabah. Untuk membeli emas, harus nabung dulu”
Tak ada jawab. Semakin erat dia merangkul lenganku. Kudekap erat.
Setiap hari aku kecup keningnya, kubelai rambutnya. Berharap kehangatan menusuk ubun-ubunnya. Tentu agar harinya tenteram dan damai. Matahari tetap terbit dari timur dan terbenam di ufuk barat. Rangkaian hari belum ada perubahan. Kalau tidak lapar, maka jelas sedang kenyang. Malampun seperti itu. Gelap. Sunyi. Ngeri.
Ketika siang hari lapar, makan bukan hal yang berharga di malam hari. Pisah ranjang adalah penyelesaian yang tak banyak memakan tenaga. Ketika di malam hari aku nyenyak di lantai, akan bangun kesiangan, setelah semalaman tidak bisa tidur karena kedinginan dan usaha menghindar dari gigitan nyamuk. Hanya akan kutemui baju tidurnya berserakan dengan pintu dibiarkan terbuka. Tidak kaget. Sudah biasa. Kuanggap inovasi hidup. Hanya bagian kecil, kok, dari tak terhitung kebahagiaan yang telah kujalani. Tentu keadilan Tuhan.
Bagi seorang lelaki, melupakan seorang perempuan itu hal yang mudah. Akan tetapi juga perempuan akan dengan sangat mudah akan memperangkap seorang lelaki; membuatnya betah untuk bersama selamanya.
Ada pepatah: ketika seorang ayah melihat anak orang lain, otomatis akan ingat pada anaknya sembari mengatakan “dia seperti anakku”. Akan tetapi, ketika melihat istri orang lain, maka akan lupa pada istrinya sendiri. Tapi, selama aku masih bisa, akan tetap kuusahan untuk bersabar.
Hari berganti semakin tak terhitung. Tak menarik pula untuk menghitung berapa kali tidur di lantai, melihat bantal-bantal beserakan di ranjang pada pagi hari, ditinggal minggat dengan pintu terbuka lebar-lebar. Namun yang aneh, senyumnya semakin mahal dan tanpa harus menghitungnya, hanya berapa kali dalam sehari. Kadang tidak sama sekali. Ngobrolnya pun sukar. Sebenarnya aku sangat ingin untuk memulai. Tapi kelihatannya sulit. Apatismenya tinggi. Dari dulu aku tidak pernah jadi pembuka. Dia selalu punya inovasi baru untuk memulai.
“Yang kuminta tidak banyak. Tapi sampai sekarang, mana hasil tabungannya? Biar saya yang akan membelinya sendiri. Kalau sekarang tidak juga bisa beli, jangan harap saya akan kembali” benar-benar marah. “Ayo jawab” tentu bentangan bukan hal yang mengejutkan. Sudah terlalu sering. “Tenang, Zein. Sabar. Tinggal sedikit lagi” aku memelas memohon kesabarannya.
“Sudah tidak ada waktu lagi. Tanpa Mas, sebenarnya saya bisa mendapatkan emas yang banyak”. Lalu membalikkan tubuhnya cepat dari hadapanku yang masih belum betul-betul sadar, tadi Zeina dengan keras berteriak agar aku terbangun. Pelan-pelan kuikuti dia masuk ke kamar. Tapi, jauh sebelum aku menyentuh daun pintu saja, dia sudah keluar, melesat pergi dengan tas besar yang digendongnya.
Catatan:
Samper: Kain panjang yang dipakai orang perempuan dengan dibalutkan pada tubuhnya sebagai rok.