Dara di Balik Jendela

Kalau kulihat kecantikan wajahmu, maka kutau itu bunga mawar yang baru saja merekah. Keindahannya membuat orang-orang merasakan sejuta ketenangan; menebar aroma wangi yang harum, sehingga semua orang tidak ingin jauh darimu. Apalagi kehilangan.

Tapi tidak selamanya kau adalah sekuntum bunga mawar. Karena segerombolan kupu-kupu tidak akan merasa kehilangan ketika sang mawar layu dan akhirnya kering. Selaksa kenangan akan lenyap bersama waktu sekalipun pancaran keindahannya mampu membuka lembaran sejarah baru yang lebih cemerlang. Tapi, kehilangan dirimu, sungguh akan membuat lelaki murka.

Sekali mawar tertunduk layu, tak satupun kumbang menghampiri. Tapi ketika wajah cantikmu kau palingkan—seperti di hari-harimu dari dulu, dimana orang-orang hanya dapat menikmati uraian rambutmu dari balik jendela kamarmu, semua lelaki akan semakin garang untuk mengendus kecantikanmu. Memang tidak semua lelaki mudah penasaran. Tapi nyaris. Lelaki adalah pengagum keindahan. Sedangkan perempuan adalah sosok yang penuh dengan estetika. Maka wajar jika lelaki durjana karena wajahmu, Aila.

***

“Mas, Pak Haji ada di dalam. Langsung masuk saja tidak apa-apa. Dimaklumi, kok. Dari pada mas kepanasan disini” kataku pada pemuda sebayaku yang menenteng 1 eksemplar majalah.

“Oh, maaf, mas. Terima kasih. Saya biasa menunggu Pak Haji Romli keluar menemui saya. Sungkan langsung mau nyelonong masuk. Lagian tidak panas-panas amat, kok, mas” timpalnya sambil mengusap cucuran keringat dari dahinya.

Sambil berjalan menuju pintu depan, kulihat Aila memang masih ada di balik jendela kamarnya. Tapi, Pak Haji benar-benar sibuk menyelesaikan tugas kantornya hari ini. Kalau terus-terusan pemuda itu mengucapkan salam, kemungkinan besar Pak Haji akan menyuruh Aila menemuinya.

“Letakkan saja di meja itu, Mas. Nanti juga Pak Haji akan tau” teriakku keras. Sungguh tak kusadari akan bertindak seperti ini. Pak Haji paling tidak suka terhadap orang yang teriak-teriak. Sejenak Aila kulihat menoleh ke luar mendengar teriakanku. Aku semakin tidak enak. Aku memilih pergi dari pada terus memperhatikan pemuda itu. Wong, dia cuma sebulan sekali mengantarkan majalah ke sini. Sedangkan aku setiap hari menginjakkan kaki di pekarangan ini. Dalih kemenanganku sembari meninggalkan rumah tua Pak Haji Romli. Lagian, kenapa sepagi ini dia mengantarkan majalah. Nanti sore, kan tidak apa-apa. Lain lagi dengan koran, lambat sedetik bisa basi.

Di setiap langkahku, berbagai pertanyaan menyerbu seputar keberadaan pemuda itu di rumah Pak Haji Romli. Jangan-jangan dia sudah tau Pak Haji punya putri cantik. Kalau memang dia sudah tau, mungkinkah dia sengaja menunggu Aila keluar menemui? Tidak. Aila tidak segampang itu kenal dengan seorang pemuda. Apalagi sembarang menemui tamu yang tak dikenal. Dikenalpun harus seizin Pak Haji Romli.

Di jalanan sudah ramai. Mobil-mobil melaju kencang. Anak-anak yang berangkat ke sekolah bersama-sama, kutemui di seluruh penjuru jalan raya seperti pagelaran konvoi bermotor. Dialah generasi yang seharusnya diselamatkan, sehingga betul-betul akan menjadi penyelamat. Kalau sekarang mereka sudah terjerat dalam tindak ketidakadilan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan sebagainya, mungkin di usia tuanya kelak akan berambisi untuk balas dendam seperti perlakuan para penjahat itu kepada mereka waktu masih kecil. Sungguh mulia semua pengorbananmu dan kedua orang tuamu. Berangkat pagi-pagi tidak peduli dengan orang-orang yang berkeliaran memenuhi sudut-sudut perkantoran hanya untuk mengerus uang negara. Ya, mungkin karena mereka belum tau koruptor itu mahluk apa. Yang penting hari ini aku mau sekolah. Nanti siang panas-panas pulang menuju rumah. Tidak peduli dengan asap-asap knalpot yang berebut terbang menyesakkan langit. Perut yang lapar harus menunda jadwal makan di tengah kemacetan jalan raya.

Suatu saat nanti, kalau Tuhan berkenan mengkaruniaiku seorang anak, sungguh tidak ada keberatan, harta yang kupunya semuanya harus kubayarkan untuk biaya sekolah anakku. Tapi, itu kapan? Masih sendiri saja kesulitan untuk sekedar mencukupi biaya makan, listrik, dan kebutuhan pokok lainnya. Orang tua yang dulu sanggup membiayaiku sampai naik bangku kuliah, dengan sendirinya aku hanya bisa mengingatnya dengan doa-doa. “semoga Tuhan berkenan memberikan rahmat-Nya”.

Akan sedikit dibanggakan, andai aku sebagai anak satu-satunya mampu mengantarkan Bapak dan Ibu sampai di pemakaman. Dan akan lebih dibanggakan lagi ketika yang menguburkan beliau adalah aku (anak gantungan hatinya). Tapi semua itu mustahil. Karena aku harus segera mengungsi jauh dari tempat semburan lumpur yang melanda desa tempat kelahiranku. Apalagi untuk mencari jasad beliau. Wong, rumah tua hasil cucuran keringat mereka tak dapat kulihat tanda-tanda masih ada. Hanya hamparan lumpur yang dapat kutatap dari kejauhan.

Setiap saat, saat kulihat di gambar-gambar luapan lumpur yang semakin menghampar di koran jualanku, seakan terlukis sejuta wajah Ibu dan Bapak sedang tersenyum melambai-lambikan tangannya. Senyumnya tetap seperti yang dulu. Saat segala upaya dan kemungkinan mustahil, akan kudapati Ibu menghapus semua keputusasaanku. Ibuuu…!!!. Kalau saja air yang ada harus menunggu turunnya hujan, niscaya cucuran air mataku akan menjadi danau yang bermuara menuju istanamu, Ibu. Tidak akan aku biarkan ada kala yang terlanda kekeringan di sana.

Anak-anak sudah pulang dari sekolahnya. Kalau tadi pagi mereka memenuhi jalanan dengan wajah yang berseri-seri, sekarang wajah mereka pucat kecoklatan. Dapat ditebak mereka sudah lapar dan betul-betul lelah setelah dari pagi mengerahkan semua tenaga dan pikirannya untuk mengenyam mata pelajaran dari gurunya. Sungguh mulia kalian. Kalian adalah putra mahkota bangsa yang damai. Tapi, dapatkah kalian betul-betul menjadi kebanggaan negeri ini? Kalau tidak, mungkin karena bangsa ini masih belum damai. Masih terlalu banyak penjahat berkeliaran. Dan sadisnya, mereka malah dipelihara dan dikasihani. Andai aku bisa berkumpul dengan kalian seperti guruku di SMP dulu. Akan terus kukatakan di hari-hari senggang mereka, saat mereka bermain dengan ria: “Negeri ini sedang diperangkap oleh penjahat. Mari dari sekarang kalian hindari penjahat-penjahat itu. Agar kalian selamat. Kalau kalian terperangkap oleh mereka, siapa lagi yang akan menyelamatkan negeri ini”. Dulu semasih aku siswa SMP, guru olahragaku menemaniku bersama teman-teman yang lain setiap hari minggu untuk sekedar jalan-jalan. Selain pantai yang paling sering dijadikan tempat sarasehan, sekali-kali masuk desa perkampungan. Tidak jarang mengajak salah seorang penduduk supaya membawa kami ke lahan pertaniannya. Dari sana aku banyak tau tentang desah nafas para petani. Oh, dulu Ibu juga begitu. Tapi, Ibu tidak pernah mengizinkanku ikut membantu mereka di sawah. Lebih baik kamu belajar saja dan menjaga rumah, katanya.

***

Pagi masih buta. Tapi, siapa yang sudah mendahuluiku berdiri di depan teras Pak Haji Romli? Tepat di samping jendela kamar Aila. Jam segini biasanya Aila akan menemuiku mengambil koran langganan ayahnya. Tapi, saat pandanganku menyisir sudut-sudut pekarangan tak tampak sesosok peri jelmaan malaikat itu menenteng seceret air.

Sekalipun sudah setiap hari aku memasuki pekarangan ini, masih saja hati kecilku merasa enggan untuk bertingkah bak tetangga dekat yang datang untuk sekedar meminjam perabotan dapur. Tapi itu yang biasa kutau cuma di kampungku dulu. Kalau disini belum betul-betul tahu. Memang untuk menjadi kota metropolitan, lingkungan disini masih jauh. Tapi kalau melihat suasana rumah Pak Haji Romli, dari dulu terlihat tertutup. Itupun kalau hanya dilihat dari kejauhan. Kenyataannya, Pak Haji selalu tersenyum setiap kali kutatap wajah senjanya. Setiap kali dia yang menerima koran yang kuantar, seingatku tidak pernah absen mempersilahkanku duduk. Sampai saat ini, masih hanya sekali pernah kucicipi kopi buatan Aila, kebetulan waktu itu koran Pak Haji kuantarkan paling akhir. Seakrab apapun sapaan Pak Haji, belum mampu menghilangkan rasa sungkanku.

“Lagi ngapain, Mas?” tanyaku pada pemuda yang tak kukenal itu. Entah sebagai agen majalah apa pemuda itu. Dari dulu sudah banyak sekali orang yang kutemui sama-sama menjadi agen langganan Pak Haji Romli.

“Masih nungguin uang, Mas” jawabnya singkat.

“Nungguin uang?” jadi, barang langganannya sudah diambil? Siapa yang mengambilnya? Sepagi ini belum pernah Pak Haji Romli yang menerima koran antaranku. Aila? Ahh… Tidak. Tidak. Mungkin Aila masih melanjutkan tidurnya.

“Kenapa, Mas?” tanyanya sambil tersenyum tipis.

“Nggak. Nggak. Nggak ada apa-apa” kilahku mantap.

“Mas, ini uangnya”

Aila? Jadi…

“Emm.. Aila., Ini korannya” sapaku seraya mendekat tepat di depan Aila. Aku harus lebih akrab, karena setiap hari kesini. Lagian, Pak Haji, kan baru-baru ini langganan majalah. Belum sesering aku menatap wajah Aila. Benakku menang. Agen majalah itu masih berdiri memperhatikanku, menunggu uangnya. Karena langkah Aila terhenti untuk mengambil korannya yang kusodorkan ke dekatnya.

“Oya, ini uangnya” Aila langsung berpaling setelah mengambil koran dari tanganku mendekati si agen majalah itu untuk memberikan uangnya. Terlihat ada perbincangan disamping memberikan uang. Entah apa yang dibicarakan. Sedikit demi sedikit kaki kuayunkan melangkah. Dan aku pamit seperti biasa. “Aila, pergi dulu”. Dia mengangguk (cuma mengangguk) tidak lepas dari senyumnya yang khas.

Memangnya apa yang mereka bicarakan? Sudah seberapa lama, sih, dia jadi langganan Pak Haji Romli?

***

“Bapak harus istirahat selama beberapa hari ini, sampai stamina Bapak betul-betul pulih” kata seorang perawat di puskesmas. Tak punya alasan untuk kukilahkan. Aku harus betul-betul istirahat. Sakitku memang tidak parah. Seingatku, dari kecil belum pernah sakit yang mengharuskan berinfus. Untuk hal ini mungkin sangat tidak menarik untuk juga ikut-ikutan seperti aku masih kecil dulu, kalau melihat ada anak tetangga yang mempunyai mainan baru, tidak boleh tidak aku juga harus dibelikan. Kalau tidak bakalan nangis sehari semalam.

Sekedar bisa berjalan yang tidak terlalu lama dan tidak terlalu siang di bawah terik panas matahari, aku putuskan untuk kembali beraktifitas. Ingin sekali melihat sejuknya pekarangan rumah Pak Haji Romli yang tak pernah membosankan. Mungkin memang tidak pernah akan membosankan. Selama tiga hari, aku minta tolong kepada teman sesama lopernya untuk mengantarkan koranku.

Sesampainya di rumah Pak Ahmad, agen langgananku, koran masih belum datang. Terlalu pagi aku berangkat. Tapi aku memutuskan untuk menunggu disana sambil berbincang-bincang dengan Pak Ahmad. Tumben sepagi ini sudah sampai kesini. Mimpi apa semalam? Guyonnya, renyah.

Koran sudah kukemas dan siap diantarkan dan dijajakan. Sebelum berangkat, sekedar menghabiskan secangkir kopi buatan istri Pak Ahmad, sudah menjadi kepastian kubaca dulu berita utama koran pagi ini. Siapa tau ada konsumen yang menanyakan berita paling aktual dulu sebelum membelinya. Begitu prinsipku sejak awal menjalani pekerjaan ini. Betul, tidak sedikit mereka yang bertanya. Sekalipun hanya sekedar basa basi. Ya, paling tidak sedikit akrablah dengan konsumen.

Di kediamannya inilah insiden pemerkosaan massal sebanyak sepuluh orang terhadap Bulan (nama samaran) kemarin malam terjadi. Sekilas tulisan ini kubaca di bawah gambar itu. Mengagetkan. Karena rumah di gambar itu adalah kediaman Pak Haji Romli. Terlihat bunga-bunga yang biasa Aila siram setiap pagi, merekah indah. Tapi kuperhatikan jendelanya, satu-satunya terobosan untu sekedar melihat Aila dari kejauhan, rusak parah dan kaca-kacanya hancur. Tak kulanjutkan membaca beritanya, sangat yakin itu rumah Pah Haji Romli.

Secepat kilat kutinggalkan rumah Pak Ahmad. Mungkin dia bertanya-tanya melihat aku pergi melesat begitu saja. Tanpa pamit. Bahkan kopiku masih habis sekali cicipan. Berjalan setengah berlari. Semua orang yang ada di jalanan melihatku. Entah apa yang mampu menyeret pandangan mereka melototiku. Tidak peduli ada yang kenal. Memanggilpun tak akan kugubris. Tapi ternyata tidak ada. Syukurlah.

Sesampainya di rumah Pak Haji Romli, nafas yang tersengal-sengal tak kuhiraukan. Dibagaimanapun akan tetap keluar masuk. Dengan langkah kaki yang tiba-tiba terasa berat kuseret, kubandingkan pemandangan rumah Pak Haji Romli pagi ini dengan gambar halaman depan koran. Tidak sama. Padahal kulihat pintu depan masih tegar. Setegar badanku yang berdiri di atas nurani yang tulus untuk sekedar bisa menikmati kembali wajah Aila yang berselang hanya tiga hari dari kesempatan yang terlalui. Entah, mungkin karena aku tidak percaya. Bahkan tugu kecil yang kujadikan tempat untuk menyembunyikanku ketika kuingin lebih lama melihat Aila duduk di balik jendela kamarnya masih berdiri di samping pintu masuk. Masih tetap dengan warna keemasannya yang dililiti ukiran bunga anggrek.

Sungguh jauh dari hari-hari kemarin. Ini mustahil kurasa. Tapi kenyataan. Kugigit jemariku. Sakit. Benar, aku tidak bermimpi. Kenapa semua ini terjadi? Kenapa? Rumah Pak Haji Romli tak pernah terbayang akan bersuasana seperti ini. Yang kutau kecantikan Aila menjadi bagian dari keindahan suasana pekarangan ini. Sekarang? malah gelap. Penuh dengan warna gelap legam. Pekat dan mencekik.

Tidak. Tidak. Aila tidak akan mati sebelum aku yang akan menggali liang kuburnya. Sebelum anak-anakku yang akan mengkafaninya. Tapi kenapa harus sekarang rumah ini akan kedatangan banyak orang untuk melayat?

Leave a Reply