nyanyi dulu ah…

di lumbung kita menabung
datang paceklik kita tak bingung
masa panen masa berpesta
itulah harapan kita semua

Saat ini sudah tidak saya temui lagi nasi bukkul, makanan khas petani Madura di musim tanam jagung. Bukkul adalah nasi yang terbuat dari singkong kering (yang disebut dengan jeringkeng).
Untuk membuat bukkul, jeringkeng tersebut ditumbuk (sekalipun tidak sampai halus) dan dituap (etoap maksudnya). Bukkul disajikan dengan parut kelapa yang dicampur sekit garam. Sehingga tidak perlu lauk untuk memakannya.
Singkong yang dikeringkan tersebut dapat jadi jeringkeng apabila sudah disimpan selama semusim.
Selama musim tanam, petani Madura menjadikan bukkul sebagai makanan selingan yang sengaja disediakan dalam dua atau tiga hari sekali. Tetapi juga tergantung keinginan masing-masing. Namun prinsipnya adalah untuk menghemat jagung (sebagai makanan pokok petani Madura) hingga masa panen mendatang.
Selama musim tanam jagung inilah petani mengisi waktu luangnya dengan menggali singkong untuk dijadikan jeringkeng. Sepulang dari sawah biasanya memanggul singkong untuk dikupas dan dikeringkan.
Singkong adalah ubi yang dapat dijadikan beragam makanan di Madura. Selain jadi bukkul, juga biasa dibuat sotel (atau populer disebut korket). Sotel biasanya dibuat kala musim hujan. Enaknya disajikan  selagi hangat plus cenge atau sambal yang pedas untuk menemani suasan dingin.
Untuk membuat sotel yang gurih, parutan singkong harus diperas diambil santannya. Santannya kita kenal dengan sakuh. Setiap sakuh yang dihasilkan dijemur dan disimpan kalau sudah kering. Karena sakuh yang kering biasa dibuat tajin atau bubur. Orang Madura menyebutnya tajina sakuh.
Tajina sakuh disajikan dengan santan kelapa dan gula merah, biasa dimakan di musim kemarau untuk melepas dahaga sepulang dari sawah.
__itulah seutas potret petani Madura.
Ketika menyimak syair Iwan Fals tersebut dari judul lagunya “Desa”, saya berangan dapat hidup se abad yang lalu. Betapa petani memiliki kekuatan yang vital untuk menunjukan kemajuan suatu bangsa. Kejayaan petani adalah cermin keberdayaan suatu bangsa. Bangsa yang tidak hanya ingin punya nama di telinga orang. Namun bangsa yang beridentitas, yang dengannya dunia memiliki kekayaan sejati.
Kejayaan petani nusantara telah membuat iri masyarakat dunia. Dari berbagai penjuru dunia berbondong -bondong ingin mendapat bagian (sebenarnya ingin memusnahkan) kekayaan petani.

One Response to “nyanyi dulu ah…”

  1. Anonymous Says:
    April 1st, 2009 at 8:24 am

    nama saya Corn
    saya adalah siswi pemerhati jagung
    hati saya amat teriris ketika malihat nasib jagung saat ini. saya dendam pada Bisi 2 yang bisanya hanya memusnahkan genrasi jagung yang berwawasan dan keren

Leave a Reply