IF I . . .
Posted by zie | Filed under Uncategorized
kalau menjulang gunung yang tinggi, dalam hati terbersit: “aku pasti bisa melampauinya”
jika terlihat mutiara di dasar lautan, egoku berujar: “dengan tangan kosong akan aku gapai”. untung saja belum pernah lihat,he,,
jika melihat perempuan cantik, hatiku berujar: “seandainya hati dan pikiranmu secantik wajah manismu, tak ada alasan bagiku untuk tidak mendapatkanmu”
I want to sing a higher tune
Like what the singer’s do
I want to act in a big theater
Like what the actor’s do
I want to dance gracefully
And move my body free
Then fly high in the sky
Like what bird’s can do.
I want to write a piece of poem
To express my emotions
I want to draw and figure out
What I am really felt
I want to live, I want to play
Together with those little kids
And then we will laugh very loud
As if there’s no tomorrow.
I want to run under the rain
To covered my tears
I want to wash away the pain
And forget all my fears
I want to remember happiness
And not a bucks of sorrows
And believe that in reality
There is really tomorrow
I want to open her eyes
But she was blind
I want to whisper some words
But she was deaf
I want to open her mind
But she was unconscious
And when I knocked on his heart
It was frozen
I want to tell you something
But I’m loosing my breath
I want to do all of these things
But I really can’t
I want to feel my existence
But I have no chance
If she just let me see the world
Maybe, I can tell you some more…
Mata Itu
Posted by zie | Filed under Uncategorized
di penghujung musim sekarat nan pekat
aku memulai mencatat detik sebagai penghuni baru jagad raya
wajah binar mengelilingiku
: tak ada alang kepalang menyertaiku
tapi, itu hanya ceritera para tetangga
yang ikut menyaksikan detik-detik ibu melahirkanku
: akhir yang indah dari perjalanan penuh gundah
begitu dapat kusimpulkan
aku hanya bisa membayangkan, sekarang!
panca indera masih sebatas tanda kala itu
aku masih seperti anak-anak para tetangga
Ibu pun sumbringah
tapi, Bu
seandainya dulu dapat kusaksikan binar matamu
tentu akan menjadi cahaya cinta tulusku kepadamu
di manakah gerangan mata itu, Ibu?
ingin tatapannya menyorot jantungku
membuka mata hatiku
bening, sebening nuranimu
yang mengandungku selama sembilan bulan dilalui
Ibu, izinkan aku mencari mata itu
barangkali dapat mengabadikan keberanian dan ketulusanmu di hatiku
guluk-guluk, 31 Mei 2008
00.00 WIB