Mata Itu

di penghujung musim sekarat nan pekat

aku memulai mencatat detik sebagai penghuni baru jagad raya

wajah binar mengelilingiku

: tak ada alang kepalang menyertaiku

tapi, itu hanya ceritera para tetangga

yang ikut menyaksikan detik-detik ibu melahirkanku

: akhir yang indah dari perjalanan penuh gundah

begitu dapat kusimpulkan

aku hanya bisa membayangkan, sekarang!

panca indera masih sebatas tanda kala itu

aku masih seperti anak-anak para tetangga

Ibu pun sumbringah

tapi, Bu

seandainya dulu dapat kusaksikan binar matamu

tentu akan menjadi cahaya cinta tulusku kepadamu

di manakah gerangan mata itu, Ibu?

ingin tatapannya menyorot jantungku

membuka mata hatiku

bening, sebening nuranimu

yang mengandungku selama sembilan bulan dilalui

Ibu, izinkan aku mencari mata itu

barangkali dapat mengabadikan keberanian dan ketulusanmu di hatiku

guluk-guluk, 31 Mei 2008

00.00 WIB

Leave a Reply